Apakah kalian pernah terpikirkan bisa melakukan kegiatan seru di sungai? Untuk pecinta rafting (Rafter) bukan suatu hal yang asing lagi untuk berkegiatan di Sungai. Rafting atau arung jeram merupakan kegiatan mengarungi jeram-jeram sungai yang sangat menantang menggunakan perahu karet atau media apung lainnya. Rafting termasuk ke dalam kategori olahraga air yang memicu adrenalin. Apakah semua sungai cocok untuk kegiatan Rafting?
Untuk melakukan kegiatan rafting, sungai harus memiliki karakteristik tersendiri agar bisa diarungi. Maka dari itu tidak semua sungai cocok dijadikan tempat arung jeram. Pada umumnya sungai yang cocok untuk arung jeram adalah sungai dengan arus yang memiliki riam atau jeram. Ketika sungai memiliki lebar yang sempit dan dangkal, sungai pun tidak dapat dilalui perahu. Namun ketika sungai memiliki arus sangat deras dan jeram yang cukup tinggi, maka dari itu sungai memiliki tingkat resiko yang tinggi ketika diarungi oleh bukan kalangan profesional.
Pada dasarnya aliran arus sungai terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: hulu, peralihan, dan hilir. Kita harus mengetahui posisi kita berada dimana, karena setiap bagian memiliki karakteristik yang berbeda. Bagian yang paling ideal untuk melakukan arung jeram yaitu bagian peralihan karena cukup dalam dan lebar, banyak dijumpai riam yang diselingi lubuk sungai.
Agar sungai cocok di arungi oleh kalangan pemula dan dijadikan sebagai tempat wisata ada beberapa kriteria yang harus diperhitungkan sebelumnya, seperti: volume air sungai, gradien/kecuraman sungai, tonjolan dasar sungai, penyempitan lebar sungai, dan tinggi muka air sungai.
Dalam pemanfaatan sungai sebagai objek wisata dan olahraga, tiap sungai memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Secara umum kita mengenalnya sebagai International Scale of River Difficulty yang dibuat oleh American Whitewater Association. Berikut merupakan klasifikasinya :
1. Kelas I
Tingkat kesulitan yang paling rendah, dengan arus yang flat (datar) dan relatif tenang. Rintangan yang ada pun sangat sedikit, hampir tidak ada jeram yang berarti. Resiko berenang di sungai ini sangat rendah dan dapat melakukan ‘self-rescue’ dengan mudah.
2. Kelas II
Sungai dengan tingkat kesulitan rendah-menengah. Lintasan pengarungan jelas sehingga tidak memerlukan pengamatan terlebih dahulu. Sesekali diperlukan manuver perahu. Bebatuan dan beberapa jeram dapat dilalui dengan mudah oleh pengarung yang terlatih. Penumpang yang terjatuh ke air sangat jarang yang mengalami cidera. Sungai dengan tingkat seperti ini sangat cocok untuk latihan dasar kegiatan arung jeram.
3. Kelas III
Sungai dengan tingkat menengah. Jeram mulai tidak beraturan dan cukup sulit, serta dapat menenggelamkan perahu. Manuver-manuver pada arus deras serta kontrol perahu pada lintasan sempit sering diperlukan. Jeram-jeram besar dan strainers mungkin ada, namun dapat dengan mudah dihindari. Pusaran arus deras dan kuat sering ditemukan terutama pada sungai-sungai besar. Cidera pada saat terlempar ke air dan terhanyut sangat jarang. Self-rescue biasanya masih bisa dilakukan namun pertolongan bantuan sudah mulai diperlukan untuk menghindari resiko yang terjadi. Sungai dengan tingkatan kesulitan ini sangat cocok untuk kegiatan wisata keluarga sebagai rekreasi alternatif, karena dapat diikuti oleh anak umur 9 tahun.
4. Kelas IV
Sungai dengan tingkat kesulitan menengah- tinggi. Sungai ini memiliki arus yang sangat deras, namun masih dapat diprediksi dengan pengendalian perahu yang tepat. Teknik pengarungan sungai ini sangat tergantung karakter sungai itu sendiri. Pasalnya, sungai dengan tingkat kesulitan ini sangat beragam dan berbeda-beda, walau memiliki tingkatan kesulitan yang sama. Jeram-jeram besar, hole dan lintasan sempit yang tidak dapat dihindari memerlukan manuver yang cepat.
Resiko cidera dan hanyut bagi penumpang cukup besar dan kondisi air menyebabkan self-rescue sulit dilakukan sehingga perlu pertolongan bantuan. Bagi pelaku pertolongan bantuan, memerlukan latihan khusus agar teknik penyelamatan dapat dilakukan dengan benar.
5. Kelas V
Sungai dengan kesulitan tinggi. Hanya cocok untuk pengarung jeram yang profesional yang sudah menguasai tehnik pengarungan dan memiliki pengalaman yang cukup pada sungai dengan tingkatan kelas yang sama. Sungai ini memiliki jeram yang banyak dan panjang dengan berbagai rintangan yang dapat menyebabkan resiko tambahan bagi seorang pengarung.
Drops atau turunan yang tiba-tiba, jeram-jeram yang sulit, hole, tebing yang terjal yang tidak bisa dihindari. bahkan sampai air terjun (waterfall) sering dijumpai pada sungai ini. Jeram yang dilewati seringkali beruntun pada jarak yang cukup beragam, sehingga membutuhkan ketahanan fisik yang tinggi.
Terlempar dari perahu sangat berbahaya pada sungai ini dan tindakan penyelamatan sering sulit dilakukan bahkan untuk seorang yang ahli sekalipun. Peralatan yang tepat, pengalaman yang luas dan latihan ketrampilan dalam penyelamatan sangat penting.
6. Kelas VI
Sungai dengan kesulitan yang tertinggi. Pengarungan disungai ini hampir tidak mungkin dilakukan karena jeram yang ada tidak dapat diprediksi dan sangat berbahaya. Konsekuensi suatu kesalahan dalam pengarungan sungai ini sangat berat. tindakan penyelamatan hampir tidak mungkin dilakukan. Sungai di tingkatan ini hanya untuk tim khusus yang memiliki keahlian tinggi.
Ragam klasifikasi ini merupakan ketetapan Internasional. Namun klasifikasi ini masih sangat variatif dan dapat berubah-ubah walaupun masih pada sungai yang sama. Hal ini disebabkan karena tingkat kesulitan sungai sangat bergantung pada debit air dan kemiringan sungai. Sehingga pada waktu-waktu tertentu, tingkat kesulitan sebuah sungai dimungkinkan dapat bertambah dan juga berkurang. Karena itu, oleh para pegiat arung jeram, dibelakang tingkatan Class sungai biasanya ditambahi ‘+’ (plus). Misalnya pada Sungai Pekalen yang memiliki tingkat kesulitan III+, artinya pada jeram-jeram tertentu sungai ini memiliki tingkat kesulitan yang setara dengan kelas IV.
Berdasarkan paparan di atas, tiap sungai memiliki karakteristik dan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Karakteristik dan tingkat kesulitan itulah yang menentukan sungai tersebut layak atau tidak untuk dijadikan objek wisata atau olahraga. Di Indonesia terdapat banyak sungai yang telah dijadikan objek wisata seperti Sungai Ayung di Bali, Sungai Pekalen di Probolinggo, Sungai Citarik di Sukabumi, Sungai Progo di Magelang, dan masih banyak lagi.
Coppy@kmpaganesha.itb.ac.id
Gantungan Kunci / Tak Tas Webing Custom
Tell / WA 082112119488
*Harga Rp.25.000 *Harga promo Rp.15.000 *Disain bebas
*Bahan Terbuat dari webing Tebal, Dua lipatan *Ukuran 15cm X 2,5 Cm
*Disain Digital DTF Dua sis *kualiats tahan lama




Komentar0