Forum Initial Planning Conference (IPC) yang digelar di Surabaya selama dua hari membahas secara rinci persiapan latihan CARAT (Cooperation Afloat Readiness and Training), Keris Marex, dan Reconex 2026. Dalam pertemuan tersebut, kedua negara menyusun skenario operasi, menentukan lokasi latihan, mengidentifikasi aset tempur yang digunakan, hingga menyelaraskan prosedur operasi bersama baik di darat maupun di laut.
Delegasi TNI AL dipimpin Paban III Latihan Staf Operasi Angkatan Laut Mabesal Kolonel Laut (P) Ludfy, sementara delegasi Amerika Serikat dipimpin Letkol Steven Ross Gillespie.
Panglima Koarmada II Laksda TNI I Gung Putu Alit Jaya menjelaskan bahwa pembahasan meliputi penyusunan skema manuver pasukan, identifikasi aset tempur, serta rincian perlengkapan yang akan digunakan dalam seluruh fase latihan.
Selain unsur kapal perang, Koarmada II juga melibatkan Dansatkor Koarmada II Kolonel Laut (P) Adam Tjahja Saputra dan Komandan KRI Sultan Iskandar Muda-367 Letkol Laut (P) Rakhmad Widiyanto. Dari pihak Amerika Serikat, United States Marine Corps (USMC) turut berpartisipasi dalam penyusunan latihan pertempuran darat dan pengintaian khusus.
Menurut Koarmada II, latihan tersebut merupakan bagian dari kerja sama bilateral tahunan yang bertujuan meningkatkan profesionalisme prajurit serta memperkuat interoperabilitas antara kedua angkatan laut.
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai latihan tersebut harus dibaca dalam konteks dinamika keamanan kawasan Indo-Pasifik yang semakin kompleks.
Menurutnya, kawasan Asia Pasifik saat ini menjadi titik pertemuan kepentingan strategis berbagai kekuatan besar dunia, terutama Amerika Serikat dan China.
"Latihan bersama seperti CARAT maupun Reconex memang sudah berlangsung bertahun-tahun. Namun dalam situasi geopolitik sekarang, maknanya jauh lebih strategis dibanding beberapa tahun lalu. Kawasan Indo-Pasifik sedang menjadi pusat kompetisi kekuatan global," ucapnya dalam pernyataannya kepada Dinamikanews.com, Sabtu (18/07/2026).
Ia menjelaskan, meningkatnya aktivitas militer di Laut China Selatan, modernisasi angkatan laut berbagai negara, hingga perebutan pengaruh terhadap jalur perdagangan internasional menjadikan setiap latihan militer memiliki pesan strategis.
Amir Hamzah menilai kerja sama militer dengan Amerika Serikat tidak berarti Indonesia sedang berpihak kepada salah satu blok.
Sebaliknya, latihan tersebut merupakan implementasi politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi prinsip diplomasi Indonesia.
"Indonesia tetap menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat, tetapi pada saat yang sama juga memiliki hubungan ekonomi dan pertahanan dengan berbagai negara lain. Inilah bentuk keseimbangan strategis yang selama ini dijaga pemerintah," Ujarnya.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan hubungan pertahanan dengan banyak negara agar memiliki akses terhadap peningkatan kemampuan teknologi, taktik operasi, dan profesionalisme prajurit.
Amir menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama latihan gabungan adalah untuk membangun interoperabilitas.
Dalam operasi militer modern, kemampuan berbagai negara untuk bekerja sama menjadi faktor yang sangat penting, terutama dalam operasi kemanusiaan, pencarian dan penyelamatan, penanggulangan bencana, hingga pengamanan jalur laut internasional.
"Interoperabilitas bukan hanya soal kemampuan menembakkan senjata bersama. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana sistem komunikasi, komando, logistik, prosedur operasi, hingga pengambilan keputusan dapat berjalan secara sinkron," Jelasnya.
Kemampuan tersebut, lanjutnya, akan sangat berguna apabila terjadi operasi gabungan dalam situasi darurat di kawasan.
Pemilihan Surabaya sebagai lokasi konferensi perencanaan juga dinilai memiliki arti penting.
Sebagai markas Koarmada II, Surabaya merupakan salah satu pusat kekuatan laut Indonesia yang mengawasi sebagian besar wilayah Indonesia bagian tengah hingga timur.
Wilayah tersebut juga berdekatan dengan berbagai Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang menjadi jalur pelayaran internasional.
"Secara geografis, Surabaya memang menjadi titik strategis untuk menyusun latihan maritim skala besar," Ucap Amir.
Menurut Amir Hamzah, latihan bersama juga memiliki fungsi deterrence atau daya tangkal.
Ia menilai peningkatan profesionalisme prajurit akan memperkuat kemampuan pertahanan Indonesia tanpa harus menimbulkan persepsi agresif terhadap negara lain.
"Negara-negara yang memiliki kemampuan pertahanan baik justru cenderung mampu menjaga stabilitas karena memiliki efek pencegahan terhadap berbagai ancaman keamanan," Ungkapnya.
Namun ia mengingatkan bahwa latihan tersebut sebaiknya tetap diposisikan sebagai bagian dari pembangunan kapasitas pertahanan, bukan sebagai langkah membangun blok militer tertentu.
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan wilayah laut yang menjadi jalur perdagangan internasional.
Menurutnya, posisi geografis tersebut membuat keamanan maritim menjadi salah satu prioritas nasional.
Ancaman terhadap keamanan laut tidak hanya berasal dari konflik antarnegara, tetapi juga pembajakan, penyelundupan senjata, perdagangan manusia, narkotika, pencurian ikan, hingga potensi sabotase terhadap infrastruktur laut.
Karena itu, peningkatan kemampuan operasi gabungan dinilai menjadi investasi strategis dalam menjaga kepentingan nasional Indonesia.
Amir menilai tantangan terbesar Indonesia ke depan adalah menjaga keseimbangan hubungan dengan seluruh mitra strategis.
Di satu sisi Indonesia perlu memperkuat kerja sama dengan Amerika Serikat, Jepang, Australia, India, maupun negara-negara ASEAN.
Di sisi lain, hubungan ekonomi dengan China juga tetap menjadi kepentingan nasional yang harus dipelihara.
"Indonesia harus tetap konsisten pada politik bebas aktif. Artinya bekerja sama dengan semua pihak tanpa terjebak dalam rivalitas kekuatan besar," Katanya.
Ia menambahkan bahwa pembangunan kekuatan pertahanan nasional tetap harus menjadi prioritas utama sehingga Indonesia tidak bergantung kepada satu negara dalam memenuhi kebutuhan pertahanannya.
Menurut Amir Hamzah, latihan gabungan TNI AL dan US Navy sebaiknya dipahami sebagai bagian dari strategi memperkuat kapasitas pertahanan nasional, meningkatkan profesionalisme prajurit, sekaligus menjaga stabilitas keamanan maritim di kawasan Indo-Pasifik yang kini menjadi salah satu kawasan paling dinamis dalam percaturan geopolitik global.(Noy/Pray)
Kami DINAMIKANEWS.com akan selalu berkomitmen memberikan fakta, terpercaya bukan Rumor, dan berimbang. Mohon Dukungannya demi keberlanjutan Jurnalisme dengan menyajikan Fakta bukan Rumor dan nikmati kenyamanannya saat menikmati Berita Kami tanpa iklan melalui like, Share, Gabung dan ikuti terus Link Berita DINAMIKANEWS.com mulai dari sekarang.
Komentar0