Lalu datang Firman.
Lelaki itu muncul pertama kali bersama naskah setebal 300 halaman berjudul "Etika dalam Bayang-Bayang Cinta." Penulisnya ? Firman Mahardika. Seorang eks aktivis mahasiswa yang kini lebih sering mengajar logika dan menulis makalah tentang moralitas. lalu Inar membaca kalimat-kalimat naskahnya dengan takzim. Seperti membaca doa selesai shalat. Dan entah di halaman ke berapa, ia langsung jatuh cinta. Bukan karena ketampanan wajah Firman. Bukan karena Suara merdunya. Justru cara Firman menata kebenaran, membuat Inar jatuh cinta.
Pertemuan pertama mereka sederhana. Di sebuah kafe yang penuh dengan orang-orang yang sibuk dengan gawainya masing-masing dan saling curhat sambil menyeruput kopi. Firman datang dengan ransel kain. Wajahnya lelah. Matanya tajam seperti anak panah.
"Menurutmu, kebenaran itu harus selalu dikatakan, atau kebenaran itu ada di ruang bisu yang tak mesti dikatakan?" tanya Inar, membuka obrolannya.
Firman tertawa pelan. "Kebenaran tak butuh suara. Ia cukup ada. Sayangnya, manusia butuh bukti. Sehingga terkadang menyuarakannya begitu lantang, sekalipun harus terluka."
Dan di situ, Inar tahu bahwa dirinya sedang berjalan menuju jurang perpisahan yang indah.
Mereka menjalin hubungan yang rumit. Seperti puisi yang ditulis dengan kalkulator. Inar mencintai Firman dengan tubuh yang terluka. Sementara Firman mencintai kebenaran, dan mengizinkan Inar berjalan di sisinya, sepanjang Inar tak mengganggu arah kompasnya.
"Inar," Ucap Firman suatu malam, "jika suatu hari engkau berbohong untuk menjaga hatiku, maka dirimu bukan mencintaiku. Engkau justru sedang menyelamatkan dirimu sendiri dari kebohongan demi kebohongan yang kau tutupi dan dari kehilangan."
"Apakah cinta tak boleh sesekali menutup matanya ?" Kata Inar, penasaran.
"Cinta bukan buta," jawab Firman. "Ia justru melihat terlalu jelas, hingga kadang menusuk ke jantung."
Inar mulai merasa seperti bayangan yang berdiri di sebelah matahari. Ia ada, tapi tak pernah benar-benar disentuh.
Dalam diam, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri, apakah cinta yang tak bisa memeluk kelemahan manusia, apa masih bisa disebut cinta ? Atau itu hanya obsesi ideal yang menjelma menjadi cinta ?
Suatu malam yang terlalu terang untuk menyembunyikan tangisnya, Inar berkata, "Firman, aku lelah mencintai seseorang yang lebih setia pada prinsipnya daripada perasaannya."
Firman menatapnya seperti membaca buku yang sudah tahu arah ending-nya.
"Inar," Katanya tenang, "aku tak bisa mencintai dengan kompromi. Karena di setiap kompromi, aku kehilangan bagian dari diriku. Dan aku tak ingin engkau mencintaiku hanya sebagai bentuk toleransi terhadap logika yang menyakitimu."
Akhirnya mereka berpisah seperti senja dan matahari. Tetap dalam satu langit. Namun tak lagi saling sapa.
Bertahun-tahun kemudian, Inar menulis novel berjudul "Kebenaran Cinta yang Tak Bisa Kupeluk". Ia tak menyesali pernah mencintai Firman. Karena dari lelaki itu, ia belajar bahwa cinta yang buta pada kebenaran bisa menjelma menjadi candu. Begitupun kebenaran yang tuli pada cinta bisa menjelma menjadi pisau.
Dan...
Di antara cinta dan kebenaran, manusia cuma bisa berjalan dengan luka yang menjelma menjadi kompasnya. Berharap menemukan arah di mana cinta dan kebenaran tak lagi saling mengkhianati. Weleh, weleh, weleh.(oNe)
Komentar0