TpG5GSM5GfO7GpdlTpW0TUdpBY==

Pengamat : Indonesia Harus Waspadai terkait Serangan AS dan Penangkapan Presiden Venezuela

JAKARTA, DINAMIKA NEWS - Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat perintah yang mengejutkan dunia, menyerang Kota Caracas dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu (03/01/2026) dini hari waktu setempat.

Maduro ditangkap bersama istri, Cilia Flores, di kediamannya hanya beberapa saat setelah serangan dan serbuan pasukan AS di Caracas.

Sejumlah kalangan menilai serangan dan penangkapan Maduro terkait kejahatan narkoterorisme dan penjualan senjata.

Terkait kondisi saat ini di Venezuela, Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah mengungkapkan, Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan strategis menyusul eskalasi konflik global terkait serangan Amerika Serikat ke Venezuela dan kabar penangkapan Presiden Nicolás Maduro. Peristiwa tersebut dinilai bukan sekadar konflik bilateral, melainkan sinyal perubahan serius dalam tatanan geopolitik dunia.

Menurutnya, jika benar sebuah negara adidaya dapat melakukan operasi militer langsung hingga menangkap kepala negara asing, maka hal itu menjadi preseden berbahaya dalam hukum dan hubungan internasional.

“Ini bukan lagi isu Venezuela semata. Ini adalah sinyal bahwa kedaulatan negara bisa dilanggar secara terbuka atas nama kepentingan geopolitik, keamanan atau ekonomi,” ucap Amir Hamzah dalam pernyataan kepada Dinamika News, Minggu (04/01/2026).

Selama ini prinsip utama hubungan internasional adalah penghormatan terhadap kedaulatan negara. Namun, jika narasi penegakan hukum internasional dijadikan legitimasi untuk menyerang dan menangkap kepala negara yang berdaulat, maka tatanan global pasca-Perang Dunia II berpotensi runtuh.

Ia menilai, tindakan tersebut —jika dikonfirmasi secara internasional— dapat membuka ruang bagi negara kuat untuk melakukan intervensi serupa terhadap negara lain yang dianggap “berseberangan kepentingan”.

“Hari ini Venezuela, besok bisa negara lain. Indonesia harus membaca ini sebagai alarm strategis,” Tegasnya.

Dalam analisis geopolitiknya, Amir menyatakan, Venezuela bukan target sembarangan. Negara tersebut memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, sehingga konflik yang terjadi sangat kental dengan dimensi ekonomi dan energi global.

Ketegangan ini juga berpotensi memperuncing rivalitas antara blok kekuatan besar, khususnya Amerika Serikat, Cina dan Rusia. Reaksi keras sejumlah negara terhadap tindakan AS menunjukkan bahwa konflik Venezuela bisa berkembang menjadi ketegangan global yang lebih luas.

“Jika konflik ini berlarut, dampaknya bisa merembet ke stabilitas harga energi, jalur perdagangan global, hingga polarisasi politik internasional,” ucap Amir lagi.

Meski Indonesia tidak terlibat langsung, Amir mengingatkan dampak tidak langsung tetap harus diantisipasi. Mulai dari gejolak ekonomi global, tekanan diplomatik, hingga perang informasi di ruang digital.

Ia menyoroti potensi disinformasi global yang menyertai konflik besar, yang kerap dimanfaatkan untuk memengaruhi opini publik di berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Indonesia harus memperkuat intelijen strategis, khususnya intelijen digital dan geopolitik, agar tidak menjadi korban perang narasi global,” Tuturnya.

Selain itu, Amir menekankan pentingnya politik luar negeri bebas aktif tetap dijaga secara konsisten, dengan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara non-blok yang menjunjung hukum internasional dan perdamaian dunia.

Amir Hamzah mendorong pemerintah Indonesia untuk aktif di forum internasional seperti PBB, ASEAN, dan Gerakan Non-Blok, guna menyuarakan pentingnya penyelesaian konflik secara damai dan menolak normalisasi intervensi militer sepihak.

“Diam berarti membiarkan preseden ini menjadi kebiasaan. Indonesia harus bersuara, bukan untuk memihak, tetapi untuk menjaga prinsip keadilan dan kedaulatan global,” Tutup Amir. *oNe

Komentar0

Type above and press Enter to search.