Partai Gerindra merayakan hari ulang tahun ke-18—sebuah usia yang dalam analogi kehidupan manusia tengah memasuki fase remaja akhir, masa pencarian jati diri yang sekaligus menandai kematangan arah. Dalam rentang waktu yang relatif singkat di panggung politik nasional, Gerindra berhasil menorehkan capaian paling prestisius: mengantarkan kader utamanya, Prabowo Subianto, ke kursi Presiden Republik Indonesia.
Keberhasilan ini tentu bukan sekadar hasil momentum elektoral semata, melainkan buah dari konsolidasi panjang, strategi politik berlapis, serta kemampuan membaca dinamika geopolitik domestik dan global. Di balik figur sentral Prabowo, terdapat peran penting sejumlah aktor kunci yang bekerja dalam senyap. Salah satu nama yang tak bisa dilepaskan dari perjalanan tersebut adalah Sufmi Dasco Ahmad—tokoh yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Harian DPP Partai Gerindra.
Sejak awal berdirinya, Gerindra dirancang bukan sekadar sebagai kendaraan politik elektoral, tetapi sebagai instrumen perjuangan ideologis yang menempatkan nasionalisme, kedaulatan ekonomi, dan kepemimpinan kuat sebagai pilar utama. Dalam konteks ini, Prabowo menjadi simbol sekaligus magnet politik yang menyatukan basis dukungan.
Namun, simbol tidak akan bekerja tanpa sistem. Di sinilah peran Dasco menjadi signifikan. Ia berfungsi sebagai arsitek operasional—menghubungkan strategi besar dengan realitas politik sehari-hari. Kemampuan membaca peta kekuatan, mengelola konflik, serta menjaga komunikasi lintas kekuasaan menjadikan Dasco sebagai figur penyeimbang dalam struktur internal Gerindra.
Dalam perspektif intelijen politik, posisi seperti ini sangat krusial. Seorang pemimpin karismatik membutuhkan operator strategis yang mampu memastikan stabilitas organisasi sekaligus membuka jalur kompromi ketika diperlukan. Dasco memainkan fungsi tersebut dengan relatif efektif.
Salah satu karakter menonjol dari Dasco adalah pendekatan low profile but high impact. Ia jarang tampil sebagai aktor utama dalam sorotan publik, tetapi kehadirannya terasa dalam setiap momentum penting—terutama saat terjadi kegaduhan politik.
Dalam banyak situasi krisis, stabilitas tidak ditentukan oleh retorika, melainkan oleh kemampuan meredam konflik dan membangun kesepahaman. Dasco kerap berperan sebagai jembatan komunikasi antara kekuatan politik yang berseberangan, sekaligus penjaga soliditas internal partai.
Pendekatan ini mencerminkan praktik klasik dalam dunia intelijen: bekerja dalam senyap, tetapi menentukan arah. Politik tidak selalu dimenangkan oleh yang paling keras bersuara, melainkan oleh yang paling tepat membaca waktu.
Di sisi lain, perjalanan Prabowo menuju kursi presiden menunjukkan transformasi kepemimpinan yang menarik. Dari figur oposisi keras, ia beralih menjadi tokoh yang mampu membangun koalisi luas dan merangkul berbagai kekuatan politik.
Transformasi ini bukan sekadar perubahan citra, tetapi adaptasi strategis terhadap perubahan lanskap geopolitik dan domestik. Dunia memasuki era ketidakpastian: rivalitas kekuatan besar, krisis pangan dan energi, serta disrupsi teknologi global. Dalam situasi seperti ini, stabilitas politik nasional menjadi prasyarat utama.
Gerindra membaca momentum tersebut dengan tepat. Kemenangan Prabowo bukan hanya kemenangan partai, tetapi refleksi kebutuhan publik terhadap kepemimpinan yang dianggap tegas namun inklusif.
Dalam fase setelah kemenangan elektoral, tantangan terbesar bukan lagi merebut kekuasaan, melainkan mempertahankan stabilitas pemerintahan. Sejarah politik menunjukkan banyak rezim runtuh bukan karena kalah pemilu, tetapi karena gagal mengelola konflik internal.
Di sinilah peran Dasco kembali relevan. Sebagai Ketua Dewan Harian, ia berada pada posisi strategis untuk menjaga orbit kekuasaan tetap stabil—mengharmoniskan hubungan antara partai, parlemen, dan pemerintah.
Kemampuan mengelola komunikasi politik lintas kepentingan menjadi aset penting, terutama dalam sistem demokrasi multipartai seperti Indonesia. Stabilitas koalisi, efektivitas legislasi, serta dukungan publik sangat bergantung pada orkestrasi politik yang rapi.
Di Usia 18 tahun menandai fase kedewasaan awal. Bagi Gerindra, kedewasaan itu diuji oleh kemampuan bertransformasi dari partai perjuangan menjadi partai penguasa. Tantangan keduanya berbeda.
Partai perjuangan hidup dari semangat oposisi dan mobilisasi massa. Sementara partai penguasa dituntut menghadirkan solusi nyata, menjaga stabilitas ekonomi, serta memastikan keberlanjutan pembangunan.
Ke depan, keberhasilan Gerindra tidak lagi diukur dari kemenangan elektoral semata, tetapi dari kualitas tata kelola pemerintahan. Dalam konteks ini, sinergi antara kepemimpinan Prabowo dan manajemen politik Dasco menjadi faktor penentu.
HUT ke-18 Partai Gerindra bukan sekadar perayaan usia, melainkan momentum refleksi atas perjalanan politik yang sarat dinamika. Keberhasilan mengantarkan Prabowo Subianto menjadi Presiden Indonesia menunjukkan efektivitas strategi jangka panjang partai.
Di balik keberhasilan tersebut, terdapat peran sunyi namun menentukan dari Sufmi Dasco Ahmad—figur operator strategis yang menjaga keseimbangan antara visi besar dan realitas politik.
Jika Prabowo adalah wajah kepemimpinan nasional Gerindra, maka Dasco adalah denyut nadi organisasi yang memastikan mesin politik tetap bergerak stabil. Kombinasi keduanya menjadi fondasi penting bagi masa depan Gerindra dalam mengarungi kompleksitas politik Indonesia dan tantangan geopolitik global.
Memasuki usia kedewasaan, pertanyaan terbesar bukan lagi apakah Gerindra mampu meraih kekuasaan, tetapi apakah ia mampu menggunakan kekuasaan untuk memperkuat negara. Waktu yang akan menjawab—dan sejarah yang akan mencatat. (oNe/Win)
Oleh: Amir Hamzah, Pengamat Intelijen dan Geopolitik
Komentar0