Menurut Amir Hamzah, Pasal 33 UUD 1945 bukan hanya pasal konstitusional biasa, tetapi fondasi ideologis dan geopolitik negara Indonesia. Pasal ini menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
“Kalau ada menteri yang tidak paham Pasal 33, itu bukan sekadar persoalan akademik atau hukum. Itu soal keberpihakan. Apakah ia berpihak pada kepentingan nasional atau justru menjadi perpanjangan tangan kepentingan asing dan oligarki,” tegas Amir Hamzah kepada DINAMIKA NEWS, Jumat (09/01/2026).
Amir menjelaskan, dalam perspektif intelijen geopolitik, Pasal 33 UUD 1945 adalah benteng terakhir kedaulatan ekonomi Indonesia. Setiap kebijakan yang membuka ruang penjarahan sumber daya alam—baik tambang, energi, hutan, laut, maupun pangan—akan langsung berdampak pada stabilitas nasional.
“Negara-negara besar selalu memetakan pejabat kunci di negara berkembang. Jika ada menteri yang longgar terhadap eksploitasi, mudah ditekan oleh korporasi global, itu menjadi titik masuk penjajahan gaya baru,” katanya.
Ia menilai, selama bertahun-tahun terdapat kecenderungan sebagian elite birokrasi dan politik menafsirkan Pasal 33 secara liberal, seolah-olah negara cukup menjadi regulator, bukan pengendali utama. Padahal, ucap Amir, roh Pasal 33 adalah penguasaan oleh negara, bukan sekadar pengawasan.
Pernyataan Prabowo dinilai tidak lazim untuk ukuran presiden. Biasanya, evaluasi menteri dilakukan tertutup. Namun kali ini, Prabowo menyampaikannya secara terbuka ke publik.
“Dalam bahasa intelijen, ini bukan warning biasa, tapi open warning. Artinya, presiden ingin publik tahu bahwa akan ada konsekuensi,” ujar Amir.
Ia menambahkan, Prabowo dikenal sebagai pemimpin dengan latar belakang militer dan strategi. Setiap pernyataan publik biasanya memiliki lapisan makna.
“Ini adalah sinyal psikologis kepada kabinet: siapa yang sejalan dengan garis konstitusi akan dipertahankan, siapa yang bermain-main dengan kekayaan negara akan disingkirkan.”
Amir Hamzah menegaskan, reshuffle—jika benar terjadi—kemungkinan besar akan menyasar menteri-menteri di sektor strategis, seperti:
-Energi dan sumber daya mineral
-Investasi dan hilirisasi
-Kelautan dan perikanan
-Kehutanan dan agraria
-Perdagangan dan industri strategis
“Di sektor-sektor inilah Pasal 33 diuji setiap hari. Apakah negara hadir sebagai penguasa, atau hanya jadi penonton sementara kekayaan nasional diangkut keluar,” jelasnya.
Ia menyebut, menteri yang membiarkan ekspor bahan mentah tanpa nilai tambah, memberikan konsesi besar tanpa kontrol ketat, atau tunduk pada tekanan investor asing, secara otomatis bertentangan dengan semangat Pasal 33.
Lebih jauh, Amir membaca reshuffle bukan hanya soal kinerja, tetapi juga konsolidasi kekuasaan Prabowo sebagai presiden. Setelah transisi pemerintahan, Prabowo perlu memastikan bahwa kabinetnya solid dan sejalan dengan visinya.
“Prabowo ingin kabinet ideologis, bukan kabinet kompromi. Kabinet yang paham bahwa kekayaan alam adalah senjata geopolitik, bukan sekadar komoditas ekonomi,” tuturnya.
Dalam konteks global yang semakin tidak stabil—konflik energi, perang dagang, dan perebutan sumber daya—Indonesia, menurutnya, tidak boleh dipimpin oleh menteri yang lemah secara ideologis.
Amir Hamzah juga menilai pernyataan Prabowo memiliki pesan ganda: ke dalam dan ke luar. Ke dalam, sebagai peringatan keras bagi menteri. Ke luar, sebagai pesan kepada rakyat bahwa presiden berdiri di pihak konstitusi.
“Prabowo ingin membangun legitimasi bahwa ia adalah presiden yang berpihak pada Pasal 33. Ini penting untuk mendapatkan dukungan rakyat dalam kebijakan-kebijakan strategis ke depan,” katanya.
Ia menambahkan, publik seharusnya ikut mengawasi. Jika ada menteri yang rekam jejaknya bertentangan dengan semangat Pasal 33, maka desakan mundur bukan hanya datang dari presiden, tetapi juga dari rakyat.
Pernyataan Prabowo soal menteri yang tidak paham Pasal 33 UUD 1945 dinilai sebagai penanda arah baru pemerintahan: lebih nasionalis, lebih protektif terhadap kekayaan negara, dan lebih tegas terhadap elite yang menyimpang.
“Ini momentum. Jika reshuffle benar-benar terjadi dan menyasar menteri-menteri bermasalah, maka kita sedang menyaksikan konsolidasi kekuasaan negara atas kekayaan nasional,” tutup Amir Hamzah.(oNe)
Komentar0