Jakarta, DINAMIKANEWS.com - Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah mengingatkan pemerintah Indonesia agar meningkatkan kewaspadaan menyusul eskalasi konflik antara Iran dan blok Amerika Serikat–Israel. Menurutnya, setiap perang besar di Timur Tengah hampir selalu menimbulkan efek rambatan (spill over effect) ke kawasan lain, termasuk Asia Tenggara.
“Dalam konflik terbuka seperti ini, yang bergerak bukan hanya militer reguler, tetapi juga operasi intelijen, perang informasi, dan operasi psikologis. Indonesia harus waspada,” ungkap Amir dalam keterangannya kepada Dinamikanews, Kamis (03/03/2026).
Ia menilai dinamika konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel tidak bisa dipandang sekadar sebagai perang konvensional, tetapi sebagai perang multidimensi yang mencakup ranah siber, propaganda global, hingga potensi destabilisasi di negara-negara yang memiliki sensitivitas politik dan keagamaan.
Dalam perspektif intelijen, Amir menjelaskan bahwa konflik besar sering kali diikuti oleh:
1. Operasi false flag, yakni operasi terselubung yang dirancang untuk mengalihkan tudingan atau memprovokasi pihak lain.
2. Perang informasi (information warfare) melalui media dan media sosial untuk membentuk opini publik global.
3. Provokasi terhadap simpul-simpul radikal di berbagai negara guna menciptakan instabilitas tidak langsung.
Amir menyinggung polemik serangan terhadap fasilitas energi di Arab Saudi dalam beberapa hari yang lalu Media pemerintah Iran seperti Yasmin News membantah keterlibatan Garda Revolusi Iran (IRGC) dalam sejumlah tuduhan serangan terhadap fasilitas energi Saudi, termasuk milik Saudi Aramco.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga membantah keterlibatan resmi negaranya dalam sejumlah tudingan operasi lintas batas yang diklaim sebagai upaya destabilisasi kawasan Teluk.
“Apalagi pihak militer Saudi mengklaim telah menangkap anggota Mossad yang diduga meledakkan Aramco,” ucap Amir.
Menurutnya, Indonesia memiliki beberapa faktor yang membuatnya perlu waspada:
1. Faktor Geopolitik
Indonesia bukan pihak dalam konflik, namun memiliki hubungan diplomatik dengan banyak negara yang terlibat. Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, dinamika konflik Iran–Israel–AS berpotensi memicu reaksi emosional publik.
2️⃣ Faktor Ideologis
Konflik yang dikemas dalam narasi agama berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk memperkuat propaganda dan perekrutan.
3️⃣ Faktor Target Simbolik
Amir menyebut bahwa fasilitas atau simbol negara-negara yang terlibat konflik bisa saja dijadikan target oleh pihak-pihak tertentu yang ingin menciptakan ketegangan. Intelijen asing khususnya CIA dan Mossad pandai dalam memunculkan kelompok teror.
“Secara historis, negara-negara besar memang memiliki kapasitas operasi intelijen global termasuk operasi CIA dan Mossad membangkitkan sel teroris di Indonesia,” katanya.
Secara geopolitik, Amir melihat dampak paling nyata bagi Indonesia justru berada di sektor energi dan stabilitas ekonomi global.
Ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia, terutama di Selat Hormuz. Jika harga minyak melonjak, Indonesia sebagai negara pengimpor minyak akan terdampak pada subsidi energi dan stabilitas fiskal.
“Perang di Timur Tengah selalu berdampak pada harga minyak. Ketika energi terguncang, efeknya merembet ke inflasi, stabilitas sosial, bahkan politik domestik,” ujar Amir.
Ia menambahkan bahwa ancaman keamanan di Indonesia selama ini lebih banyak bersumber dari jaringan domestik dan regional yang memiliki akar ideologis lokal, meskipun narasi global sering menjadi pemicu.
Amir Hamzah menyarankan beberapa langkah strategis:
-Penguatan deteksi dini oleh intelijen nasional.
-Pengawasan ketat terhadap arus propaganda digital.
-Koordinasi diplomatik aktif untuk menjaga posisi netral Indonesia.
-Edukasi publik agar tidak mudah terprovokasi oleh disinformasi global.
“Yang paling berbahaya bukan hanya bom atau senjata, tetapi disinformasi yang memecah belah masyarakat,” tegasnya.
Konflik Iran–AS–Israel adalah konflik geopolitik besar yang memiliki dimensi militer, ekonomi, dan intelijen. Bagi Indonesia, ancaman langsung mungkin tidak bersifat militer, tetapi lebih pada dampak ekonomi, polarisasi sosial, dan potensi eksploitasi narasi konflik oleh kelompok ekstremis.
“Indonesia harus tenang, rasional, dan berbasis data. Jangan ikut terseret dalam perang narasi global. Kedaulatan dan stabilitas nasional harus menjadi prioritas utama,” pungkasnya. (B4r)
Kami DINAMIKANEWS.com akan selalu berkomitmen memberikan fakta, terpercaya bukan Rumor, dan berimbang. Mohon Dukungannya demi keberlanjutan Jurnalisme dengan menyajikan Fakta bukan Rumor dan nikmati kenyamanannya saat menikmati Berita Kami tanpa iklan melalui like, Gabung dan ikuti terus DINAMIKANEWS.cyom mulai dari sekarang.
Komentar0