TpG5GSM5GfO7GpdlTpW0TUdpBY==

Pengamat: Dasco Serukan Pentingnya Persatuan di Tengah Gejolak Global

Jakarta, DINAMIKANEWS.com - Di tengah Gejolak Global Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyerukan agar masyarakat sipil memperkuat persatuan nasional dinilai sebagai peringatan penting di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia. Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menilai pernyataan tersebut merupakan bentuk kewaspadaan terhadap potensi perang informasi dan operasi destabilisasi yang kini semakin sering terjadi di berbagai negara.

Menurut Amir, kondisi global saat ini memperlihatkan meningkatnya konflik antarnegara yang tidak hanya dilakukan melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui perang informasi, propaganda media sosial, serta operasi intelijen yang bertujuan melemahkan stabilitas suatu negara.

“Pernyataan Dasco harus dilihat dalam konteks global. Dunia sedang memasuki fase ketidakstabilan geopolitik yang tinggi. Banyak negara menghadapi tekanan melalui perang informasi, propaganda digital, hingga operasi penggoyangan politik di dalam negeri,” ujar Amir kepada wartawan, Sabtu (07/03/2026).

Seruan Dasco sebelumnya meminta agar masyarakat sipil untuk tetap menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh berbagai isu yang beredar di ruang publik, terutama di media sosial. Menurutnya, situasi global yang memanas menuntut bangsa Indonesia untuk tetap solid dan tidak terpecah oleh perbedaan pandangan.

Amir menilai sikap Dasco tersebut menunjukkan pemahaman terhadap dinamika geopolitik modern yang semakin kompleks.

“Dalam konflik modern, perang tidak selalu dilakukan dengan invasi militer secara langsung. Ada tahapan lain seperti penggiringan opini publik, propaganda digital, hingga mobilisasi demonstrasi yang dapat memicu ketidakstabilan,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa pola-pola seperti ini sering disebut sebagai perang hibrida atau hybrid warfare, yakni strategi yang memadukan operasi militer, perang informasi, tekanan ekonomi, dan operasi psikologis untuk melemahkan sebuah negara dari dalam.

Menurut Amir, berbagai konflik internasional menunjukkan pola yang hampir serupa. Tahap awal biasanya dimulai dengan perang informasi melalui media sosial, disusul dengan pembentukan opini publik yang kuat terhadap suatu isu tertentu.

Setelah itu, konflik sering berkembang menjadi mobilisasi demonstrasi besar-besaran yang berpotensi memicu ketegangan politik di dalam negeri.

“Jika kondisi tersebut berhasil menciptakan instabilitas, maka tekanan eksternal bisa meningkat, baik melalui sanksi ekonomi, tekanan diplomatik, maupun konflik terbuka,” katanya.

Amir mencontohkan dinamika yang terjadi di Timur Tengah, termasuk situasi yang dialami Iran dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, Iran sempat diguncang demonstrasi besar yang diiringi perang opini di media sosial global.

Dalam sejumlah kasus, kata Amir, operasi semacam itu juga kerap disertai teknik false flag atau operasi bendera palsu untuk menciptakan kesan bahwa konflik sepenuhnya berasal dari dalam negeri.

“Tujuannya adalah menciptakan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan memperbesar konflik internal,” ujar Amir.

Ia mengingatkan bahwa fenomena serupa bisa saja terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia, terutama melalui ruang digital yang sangat terbuka saat ini.

Media sosial, menurutnya, telah menjadi medan baru dalam konflik geopolitik modern.

“Perang saat ini tidak selalu menggunakan tank atau rudal. Kadang cukup menggunakan propaganda digital, manipulasi informasi, dan algoritma media sosial untuk memecah belah masyarakat,” tuturnya.

Karena itu, Amir menilai pesan persatuan yang disampaikan Dasco memiliki arti strategis dalam menjaga stabilitas nasional.

Indonesia sebagai negara besar dengan posisi geopolitik penting di kawasan Asia Tenggara dinilai berpotensi menjadi arena persaingan kepentingan global.

Dalam situasi seperti itu, stabilitas sosial dan persatuan masyarakat menjadi faktor utama dalam menjaga ketahanan nasional.

“Jika masyarakat terpecah, maka negara akan lebih mudah dipengaruhi oleh operasi intelijen asing dan propaganda global. Sebaliknya, jika masyarakat solid, berbagai upaya destabilisasi akan sulit berhasil,” jelasnya.

Amir menegaskan bahwa demokrasi tetap memberikan ruang bagi kritik terhadap pemerintah. Namun ia mengingatkan bahwa kritik seharusnya tetap berada dalam kerangka kepentingan nasional.

Menurutnya, pesan Dasco seharusnya menjadi refleksi bagi seluruh elemen bangsa agar tidak mudah terprovokasi oleh berbagai narasi yang dapat memicu perpecahan.

“Persatuan nasional adalah benteng pertama sebuah negara. Jika masyarakat tetap bersatu, maka Indonesia akan mampu menghadapi berbagai gejolak geopolitik global yang sedang terjadi,” tutup Amir.(Put/on)


Kami DINAMIKANEWS.com akan selalu berkomitmen memberikan fakta, terpercaya bukan Rumor, dan berimbang. Mohon Dukungannya demi keberlanjutan Jurnalisme dengan menyajikan Fakta bukan Rumor dan nikmati kenyamanannya saat menikmati Berita Kami tanpa iklan melalui like, Gabung dan ikuti terus DINAMIKANEWS.com mulai dari sekarang.

Komentar0

Type above and press Enter to search.