Menurut Amir, keterbukaan sejarah diplomasi tersebut penting agar tidak menjadi “beban masa lalu” yang mempengaruhi arah kebijakan luar negeri Indonesia di era Presiden Prabowo Subianto.
Amir Hamzah juga mengatakan, selama ini publik hanya mengetahui sikap resmi Indonesia yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Namun di balik itu, terdapat jejak komunikasi yang berlangsung secara tertutup pada masa Orde Baru.
“Warisan komunikasi itu sebenarnya ada, tetapi tidak pernah diumumkan secara terbuka kepada publik. Karena itu sebaiknya dokumen-dokumen lama dibuka kembali agar masyarakat memahami konteks sejarahnya,” ujar Amir Hamzah dalam keterangannya kepada Dinamikanews.com, Rabu (11/03/2026).
Salah satu peristiwa yang sering disebut dalam catatan sejarah diplomasi adalah pertemuan antara Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin pada 15 Oktober 1993.
Pertemuan tersebut terjadi tidak lama setelah Rabin menandatangani Oslo Accords bersama pemimpin Palestina Yasser Arafat.
Menurutnya, pertemuan itu menunjukkan bahwa komunikasi antara Indonesia dan Israel sebenarnya pernah terjadi di tingkat pemimpin negara, meskipun tidak diikuti pembukaan hubungan diplomatik resmi.
“Setelah Oslo ditandatangani, Rabin bertemu Soeharto. Dalam perspektif intelijen dan geopolitik, pertemuan seperti ini biasanya tidak berdiri sendiri, melainkan melalui jalur komunikasi yang sudah dibangun sebelumnya,” ungkapnya.
Ia menilai jaringan militer dan intelijen pada masa Orde Baru kemungkinan memainkan peran penting dalam memfasilitasi komunikasi tersebut. Salah satu tokoh yang disebut memiliki pengaruh besar dalam arsitektur keamanan saat itu adalah L. B. Moerdani. Ada juga peran Atase Militer Indonesia di Belanda Yopie Meiloa.
Amir Hamzah mengatakan, dalam praktik hubungan internasional, negara sering membuka jalur komunikasi tidak resmi melalui militer, atase pertahanan, maupun jaringan intelijen.
Ia mencontohkan bahwa berbagai negara kerap menggunakan jalur non-diplomatik untuk menjaga komunikasi strategis, terutama dengan negara yang secara politik sensitif.
“Dalam dunia geopolitik, komunikasi informal seperti ini sangat umum. Banyak negara yang secara resmi tidak memiliki hubungan diplomatik, tetapi tetap menjaga jalur komunikasi melalui intelijen atau pertahanan,” ucap Amir.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam praktik global, perusahaan asing terkadang menjadi pintu masuk bagi kepentingan intelijen. Pola ini, menurutnya, pernah digunakan oleh sejumlah negara Barat.
“Perusahaan teknologi atau pertahanan sering kali disusupi agen intelijen. Itu praktik yang juga pernah dilakukan negara seperti Inggris dalam berbagai operasi global,” ucapnya.
Amir Hamzah juga menyinggung bahwa kontak Indonesia dengan Israel tidak sepenuhnya berhenti setelah era Orde Baru.
Ia menyebut bahwa pada 2004, menjelang akhir pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, terdapat delegasi pengusaha yang tergabung dalam Kadin melakukan kunjungan dagang ke Israel melalui jalur organisasi bisnis.
“Artinya komunikasi ekonomi tetap ada, walaupun tidak selalu muncul di ruang publik,” jelasnya.
Dalam situasi global yang semakin kompleks, Amir Hamzah menilai Presiden Prabowo perlu mengambil posisi diplomasi yang jelas dan tidak ambigu.
Ia mengingatkan agar kebijakan luar negeri Indonesia tidak terjebak dalam diplomasi “abu-abu” yang dipengaruhi oleh warisan politik masa lalu.
“Presiden Prabowo tidak boleh berada dalam posisi abu-abu. Indonesia harus punya sikap jelas dalam sikap geopolitiknya,” ujar Amir.
Ia juga mendorong Kementerian Luar Negeri dan lembaga intelijen untuk membuka arsip sejarah yang berkaitan dengan komunikasi Indonesia dan Israel pada masa lalu.
“Kalau dokumen pertemuan Soeharto dengan Rabin dibuka, publik bisa melihat konteks sejarahnya. Itu justru akan memperkuat transparansi dan posisi diplomasi Indonesia,” paparnya.
Menurut Amir, memahami sejarah diplomasi secara terbuka penting agar Indonesia dapat menentukan arah kebijakan luar negeri yang lebih tegas di tengah dinamika geopolitik global saat ini. (oNe/pray)
Kami DINAMIKANEWS.com akan selalu berkomitmen memberikan fakta, terpercaya bukan Rumor, dan berimbang. Mohon Dukungannya demi keberlanjutan Jurnalisme dengan menyajikan Fakta bukan Rumor dan nikmati kenyamanannya saat menikmati Berita Kami tanpa iklan melalui like, Gabung dan ikuti terus DINAMIKANEWS.com mulai dari sekarang.
Komentar0