Menurut Amir, pernyataan kesiapan itu sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan komitmen Indonesia dalam ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
“Jika Presiden Prabowo benar-benar membuka kanal komunikasi ke Teheran, Washington, dan Tel Aviv, Indonesia sedang mengirim pesan bahwa Jakarta tidak ingin hanya menjadi penonton dalam konflik global,” ucapya kepada wartawan, Ahad (1/03/2026).
Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan pola saling uji kekuatan—baik melalui serangan terbatas, perang proksi, maupun tekanan sanksi ekonomi.
Dalam kalkulasi geopolitik, kawasan Teluk Persia adalah jalur vital energi dunia. Gangguan di Selat Hormuz saja dapat memicu lonjakan harga minyak global. Bagi Indonesia, sebagai negara net importer minyak, eskalasi perang akan berdampak langsung pada APBN, subsidi energi, dan stabilitas ekonomi domestik.
Di sinilah, menurut Amir, kepentingan nasional Indonesia bertemu dengan diplomasi global.
“Peran mediasi bukan sekadar idealisme. Ini soal kepentingan strategis Indonesia menjaga stabilitas harga energi dan rantai pasok global,” tegasnya.
Modal Geopolitik Indonesia
Secara geopolitik, Indonesia memiliki beberapa modal:
1. Posisi Non-Blok dan Bebas Aktif
Sejak era Soekarno, Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif. Artinya tidak memihak blok kekuatan mana pun, namun aktif mendorong perdamaian.
Posisi ini membuat Indonesia relatif diterima oleh banyak pihak, termasuk negara-negara Barat dan dunia Islam.
2. Negara Muslim Terbesar
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki kedekatan emosional dan historis dengan Iran. Hubungan diplomatik kedua negara relatif stabil, termasuk dalam bidang perdagangan dan pendidikan.
Namun di sisi lain, Indonesia juga memiliki hubungan ekonomi dan pertahanan dengan Amerika Serikat, serta kerja sama teknologi dengan Israel melalui berbagai jalur tidak langsung.
Keseimbangan inilah yang dinilai menjadi “kartu diplomasi” Prabowo.
3. Kredibilitas Prabowo di Dunia Pertahanan
Sebagai mantan Menteri Pertahanan dan kini Presiden, Prabowo memiliki jejaring kuat di kalangan elite militer global. Ia memahami dinamika hard power sekaligus kebutuhan soft diplomacy.
Amir menilai, pendekatan Prabowo kemungkinan akan memadukan diplomasi pertahanan (defense diplomacy) dan jalur komunikasi intelijen sebagai pintu masuk awal sebelum dialog resmi dilakukan.
Meski peluang terbuka, upaya mediasi bukan tanpa risiko.
1. Persepsi Keberpihakan
Iran sangat sensitif terhadap negara-negara yang dianggap terlalu dekat dengan Washington. Sementara Israel akan mencermati posisi Indonesia yang selama ini konsisten mendukung kemerdekaan Palestina.
Jika tidak dikelola hati-hati, mediasi justru bisa menimbulkan kecurigaan kedua belah pihak.
2. Kompleksitas Aktor Non-Negara
Konflik Iran–Israel bukan sekadar konflik dua negara. Ada jaringan proksi seperti kelompok bersenjata di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman. Intelijen kawasan memainkan peran besar dalam eskalasi maupun de-eskalasi.
Artinya, dialog formal tidak otomatis menghentikan konflik lapangan.
3. Kepentingan Kekuatan Besar
Amerika Serikat memiliki kepentingan strategis di kawasan Teluk. Rusia dan China juga terlibat secara tidak langsung. Mediasi Indonesia harus mempertimbangkan dinamika multipolar ini.
Dalam perspektif geopolitik, terdapat tiga kemungkinan skenario:
Pertama, eskalasi terbatas. Serangan balasan terjadi, namun tidak berkembang menjadi perang terbuka. Dalam skenario ini, mediasi Indonesia berfungsi sebagai kanal komunikasi untuk mencegah salah perhitungan (miscalculation).
Kedua, perang regional. Jika serangan meluas dan melibatkan sekutu masing-masing, harga minyak melonjak tajam. Indonesia akan terdampak serius secara ekonomi.
Ketiga, de-eskalasi diplomatik. Tekanan internasional dan kepentingan ekonomi memaksa para pihak kembali ke meja perundingan. Di sinilah peluang peran Indonesia paling besar.
Dimensi Kepentingan Nasional
Bagi Indonesia, stabilitas Timur Tengah bukan isu jauh. Dampaknya langsung terasa pada:
-Harga BBM dan inflasi
-Stabilitas nilai tukar rupiah
-Arus perdagangan dan logistik global
-Persepsi risiko investasi
Jika konflik membesar, APBN Indonesia bisa terbebani subsidi energi lebih tinggi.
Karena itu, langkah diplomasi Prabowo dinilai bukan hanya idealis, tetapi realistis.
Amir Hamzah menilai, figur Prabowo memiliki kombinasi unik: latar belakang militer, pengalaman diplomasi pertahanan, serta legitimasi politik sebagai Presiden.
“Dalam konteks geopolitik multipolar, Indonesia bisa menjadi middle power mediator. Tidak sebesar Amerika atau China, tetapi cukup netral dan dihormati,” ujarnya. (One/man)
Kami DINAMIKANEWS.com akan selalu berkomitmen memberikan fakta, terpercaya bukan Rumor, dan berimbang. Mohon Dukungannya demi keberlanjutan Jurnalisme dengan menyajikan Fakta bukan Rumor dan nikmati kenyamanannya saat menikmati Berita Kami tanpa iklan melalui like, Gabung dan ikuti terus DINAMIKANEWS.com mulai dari sekarang.
Komentar0