TpG5GSM5GfO7GpdlTpW0TUdpBY==

Prabowo ke Jepang dan Korsel, Pengamat: Indonesia akan Jadi Kekuatan Penyeimbang Global

Jakarta, DINAMIKANEWS.com - Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan bukan sekadar agenda diplomasi rutin, melainkan mencerminkan pergeseran besar arah strategi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai, lawatan tersebut adalah langkah terukur untuk mengubah orientasi diplomasi Indonesia dari berbasis sumber daya alam menuju kekuatan berbasis pengetahuan, teknologi, dan pengaruh global.

Menurutnya, pilihan Jepang dan Korea Selatan bukan kebetulan. Kedua negara merupakan episentrum kemajuan teknologi dunia—Jepang dengan kekuatan manufaktur presisi dan energi, serta Korea Selatan dengan dominasi di sektor digital, kecerdasan buatan, dan industri kreatif. Dalam konteks ini, Indonesia sedang membangun fondasi jangka panjang melalui kerja sama pendidikan dan transfer teknologi.

“Ini bukan sekadar kerja sama ekonomi. Ini adalah investasi geopolitik jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dan memperkuat daya saing global,” ucapnya kepada Dinamikanews.com, Senin (30/03/2026).
Lebih jauh, Amir membaca bahwa langkah Prabowo ini merupakan bagian dari strategi keseimbangan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik. Di tengah rivalitas kekuatan besar dunia, khususnya antara Amerika Serikat dan China, Indonesia memilih jalur “balanced alignment”—tidak berpihak secara ekstrem, tetapi aktif menjalin kemitraan strategis dengan berbagai kekuatan.

Pendekatan ini, menurutnya, memberi ruang bagi Indonesia untuk tetap independen sekaligus relevan. Jepang dan Korea Selatan, yang memiliki hubungan erat dengan Barat namun tetap menjaga kepentingan ekonomi dengan China, menjadi mitra ideal dalam strategi tersebut.

Dalam perspektif intelijen, kunjungan ini juga mengirim sinyal kuat bahwa Indonesia tidak ingin lagi hanya menjadi pasar atau objek geopolitik, tetapi mulai memposisikan diri sebagai subjek yang aktif menentukan arah kawasan.

“Indonesia ingin naik kelas. Bukan hanya pemain regional, tapi aktor penting dalam stabilitas global,” tegas Amir.

Ia juga menyoroti dimensi lain yang tak kalah penting, yakni peran Indonesia dalam mendorong perdamaian dunia. Di tengah meningkatnya konflik global, mulai dari Timur Tengah hingga ketegangan di berbagai kawasan, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tampil sebagai mediator.

Menurut Amir, diplomasi Prabowo mengandung pesan bahwa Indonesia siap mengambil peran sebagai “middle power mediator”—kekuatan menengah yang mampu menjembatani kepentingan berbagai pihak.

“Diplomasi Indonesia kini mulai proaktif. Kita tidak lagi menunggu, tapi ikut membentuk arah percakapan global, terutama dalam isu perdamaian dan stabilitas,” imbuhnya.

Kunjungan ini juga diyakini akan berdampak langsung pada berbagai sektor strategis nasional. Dari sisi ekonomi, peluang investasi dan transfer teknologi akan semakin terbuka. Di bidang pendidikan, kolaborasi riset dan pengembangan SDM berpotensi meningkat signifikan. Sementara di sektor industri, Indonesia bisa mempercepat transformasi menuju ekonomi berbasis inovasi.

Namun di balik itu semua, yang paling penting adalah peningkatan posisi tawar Indonesia di panggung internasional. Dengan memperkuat kemitraan dengan negara-negara maju di Asia Timur, Indonesia tidak hanya memperkuat fondasi domestik, tetapi juga memperluas pengaruh globalnya.

“Ini adalah reposisi besar. Indonesia sedang menyiapkan diri untuk duduk di meja utama dalam percaturan dunia,” Tutup Amir. (Lif/Noy)


Kami DINAMIKANEWS.com akan selalu berkomitmen memberikan fakta, terpercaya bukan Rumor, dan berimbang. Mohon Dukungannya demi keberlanjutan Jurnalisme dengan menyajikan Fakta bukan Rumor dan nikmati kenyamanannya saat menikmati Berita Kami tanpa iklan melalui like, Gabung dan ikuti terus DINAMIKANEWS.com mulai dari sekarang.

Komentar0

Type above and press Enter to search.