Kegagalan negosiasi, yang diselesaikan pada akhir tahun 2025, merupakan pukulan berat bagi perencanaan keuangan pertahanan Prancis dan meningkatkan tekanan pada anggaran yang sudah dialokasikan untuk berbagai proyek strategis, lapor Aero Time dikutip pemberitaan La Tribune.
Perjanjian tersebut menetapkan kontribusi hingga 3,5 miliar euro dari Abu Dhabi untuk membantu menutupi sisa biaya, yang diperkirakan sekitar 5 miliar euro.
Namun, perbedaan pendapat yang mendalam mengenai transfer teknologi akhirnya membuat kemitraan tersebut tidak layak.
UEA menginginkan akses yang lebih besar ke sistem-sistem sensitif dan partisipasi langsung dalam pengembangan pesawat, sementara Prancis memilih untuk mempertahankan kendali atas teknologi-teknologi penting yang dianggap esensial untuk otonomi militer dan industrinya.
Kebuntuan mencapai puncaknya selama kunjungan Presiden Emmanuel Macron ke UEA pada akhir tahun 2025.
Negosiasi yang tidak menunjukkan kemajuan, dan pertemuan berakhir dengan tegang, yang mengukuhkan penarikan diri UEA dari proyek tersebut.
Pengembangan Rafael F5 tanpa UEA
Kini, biaya tambahan tersebut akan ditanggung dalam Undang-Undang Pemrograman Militer Prancis yang baru, yang sudah menetapkan peningkatan signifikan dalam investasi pertahanan, tetapi menghadapi keterbatasan mengingat skala program yang sedang berjalan.
Rafale F5 mewakili evolusi mendalam dari jet tempur Prancis saat ini, melampaui modernisasi konvensional.
Standar baru ini akan mencakup radar AESA canggih dengan teknologi galium nitrida, peningkatan substansial pada sistem peperangan elektronik SPECTRA dan sensor optronik baru.
Selain itu, arsitektur digital yang lebih maju juga diintegrasikan guna menangani operasi yang sangat terhubung di medan perang modern.
Salah satu kemajuan utama adalah integrasi rudal nuklir hipersonik ASN4G, yang dirancang untuk menggantikan ASMP-A dan memastikan keberlanjutan pencegahan nuklir Prancis dengan jangkauan dan kecepatan yang lebih besar.
Kemampuan ini dapat memperkuat peran strategis Rafale sebagai vektor utama angkatan udara nuklir Prancis dalam beberapa dekade mendatang.
F-5 juga akan dilengkapi dengan mesin M88 T-REX baru, yang menjanjikan daya dorong sekitar 20% lebih besar dibandingkan versi saat ini.
Peningkatan ini akan memungkinkan kapasitas muatan yang lebih besar, peningkatan kinerja tempur, dan peningkatan jangkauan operasional, sambil tetap mempertahankan kompatibilitas dengan rangka pesawat yang sudah ada.
Elemen kunci lain dari program ini adalah integrasi dengan drone tempur siluman, dalam konsep operasi kolaboratif antara pesawat berawak dan tanpa awak. Yaitu Robotika
Sistem ini memungkinkan Rafale untuk bertindak sebagai pusat komando udara sejati, mengoordinasikan sensor, senjata, dan platform secara real-time.
Namun, kini pengembangan drone ini masih menghadapi ketidakpastian, karena proyek tersebut masih belum mendapatkan pendanaan penuh dan kontrak produksi formal.
Rafale F5 dijadwalkan mulai beroperasi sekitar tahun 2035. Hal ini mencerminkan kompleksitas teknologi program dan tantangan finansial yang terlibat.
Hingga saat itu, Prancis akan terus berinvestasi dalam peningkatan bertahap untuk mempertahankan daya saing pesawat di panggung internasional.
Konteks Eropa juga menambah tekanan pada proyek tersebut. Program SCAF, yang dikembangkan dalam kemitraan dengan Jerman dan Spanyol, menghadapi kesulitan politik dan industri yang menimbulkan keraguan tentang masa depannya.
Jika program ini tidak berjalan maju, Prancis mungkin akan semakin bergantung pada Rafale F5 sebagai solusi utama untuk menjamin superioritas udara dan kemampuan tempur tingkat lanjut dalam beberapa dekade mendatang.
Terlepas dari kegagalan negosiasi, hubungan antara Prancis dan Uni Emirat Arab masih tetap strategis.
UEA terus menjadi pelanggan internasional terbesar untuk Rafale, dengan kontrak untuk 80 pesawat senilai sekitar 16 miliar euro dan pengiriman dijadwalkan antara tahun 2026 dan 2031.
Diskusi juga sedang berlangsung mengenai kemungkinan akuisisi tambahan di masa mendatang.
Dengan mundurnya mitra Arabnya, Prancis memperkuat komitmennya terhadap otonomi strategis dan pemeliharaan industri pertahanan yang independen, bahkan di tengah biaya yang tinggi.
Rafale F5 pun muncul sebagai bagian sentral dari strategi ini, mengukuhkan dirinya sebagai salah satu program paling ambisius dalam penerbangan militer Eropa untuk beberapa dekade mendatang.
(Lif/B4r)
Kami DINAMIKANEWS.com akan selalu berkomitmen memberikan fakta, terpercaya bukan Rumor, dan berimbang. Mohon Dukungannya demi keberlanjutan Jurnalisme dengan menyajikan Fakta bukan Rumor dan nikmati kenyamanannya saat menikmati Berita Kami tanpa iklan melalui like, Share, Gabung dan ikuti terus Link Berita DINAMIKANEWS.com mulai dari sekarang.
Komentar0