Jakarta, DINAMIKANEWS.com - Di sudut-sudut padat permukiman hingga lorong-lorong kota yang tak pernah benar-benar tidur, sosok Hj. Inad Luciawaty hadir dengan kesederhanaan yang justru memancarkan wibawa. Wajahnya keibuan, tutur katanya hangat, dan kehadirannya kerap memberi rasa tenang bagi warga. Tak heran jika masyarakat memanggilnya dengan penuh hormat sekaligus kedekatan: “Bunda” atau “Bu Haji”.
Bagi banyak warga di Jakarta Barat, kehadiran Inad bukan sekadar kunjungan kerja atau agenda seremonial. Ia hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari—menyapa, mendengar, dan merasakan langsung denyut persoalan warga.
Sebelum melangkah ke dunia legislatif, Hj. Inad telah lebih dulu dikenal luas sebagai sosok penggerak masyarakat melalui perannya sebagai mantan Ketua PKK Jakarta Barat. Di posisi ini, ia tidak hanya mengelola program-program pemberdayaan keluarga, tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan warga dari berbagai lapisan.
Gerakan PKK yang identik dengan pendekatan kekeluargaan menjadi fondasi kuat bagi gaya kepemimpinannya hari ini. Ia terbiasa turun langsung, memahami persoalan rumah tangga warga, mulai dari kesehatan, pendidikan anak, hingga ekonomi keluarga.
Pengalaman itu membentuk cara pandangnya: bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari keluarga yang kuat dan lingkungan yang sehat.
Ketika kemudian ia dipercaya menjadi anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PKS dan duduk di Komisi A, pendekatan yang sama tetap ia pertahankan—membumi, dekat, dan penuh empati.
Daerah pemilihan yang diwakilinya mencakup wilayah padat dan dinamis seperti Kembangan, Kebon Jeruk, Pal Merah, Grogol Petamburan, hingga Taman Sari. Kawasan ini bukan hanya luas secara geografis, tetapi juga sarat dinamika sosial.
Di satu sisi terdapat kawasan permukiman padat dengan persoalan klasik seperti banjir dan sanitasi. Di sisi lain, ada wilayah urban modern dengan tantangan pelayanan publik dan mobilitas tinggi. Semua itu menuntut kehadiran wakil rakyat yang tidak hanya memahami data, tetapi juga realitas lapangan.
Hj. Inad memilih menjawab tantangan itu dengan cara sederhana: hadir langsung.
Ia kerap terlihat duduk bersama warga di kursi plastik, berbincang tanpa jarak, menyerap keluhan tanpa protokoler berlebihan. Baginya, mendengar adalah langkah awal dari solusi.
Di tengah citra politisi yang kerap diwarnai janji, Hj. Inad justru dikenal karena minim retorika. Ia tidak banyak berbicara di ruang publik, tetapi konsisten bekerja di lapangan.
Pendekatannya bisa disebut sebagai politik kehadiran—hadir secara fisik di tengah masyarakat, hadir secara emosional dalam persoalan mereka, dan hadir dalam bentuk solusi yang nyata.
Warga mengenalnya sebagai figur yang bisa diandalkan, bukan hanya saat kampanye, tetapi dalam keseharian. Ketika ada warga sakit, kesulitan administrasi, atau menghadapi persoalan sosial, ia berupaya hadir, bahkan dalam kapasitas personal.
Di titik inilah julukan “Bunda” menemukan maknanya. Ia bukan sekadar sapaan, tetapi cerminan hubungan yang terbangun antara wakil rakyat dan masyarakat.
Lulusan Universitas Satyagama ini memiliki latar belakang pendidikan ekonomi yang memberinya kemampuan membaca kebijakan dari sisi anggaran dan perencanaan.
Namun yang menonjol bukan sekadar kapasitas akademik, melainkan kemampuannya menerjemahkan kebijakan menjadi manfaat nyata. Ia memahami bahwa angka-angka dalam APBD bukan sekadar statistik, melainkan harus bermuara pada kesejahteraan warga.
Di Komisi A DPRD DKI Jakarta, ia terlibat dalam pengawasan pemerintahan, birokrasi, dan pelayanan publik. Isu-isu seperti administrasi kependudukan, keamanan lingkungan, hingga efektivitas layanan menjadi fokus perhatian.
Di ruang rapat, ia dikenal tenang namun tegas. Tidak banyak bicara, tetapi setiap intervensinya memiliki arah yang jelas: memastikan kebijakan berpihak kepada masyarakat.
Salah satu perhatian utama Hj. Inad adalah bagaimana pelayanan publik bisa menjadi lebih sederhana dan responsif. Ia kerap menerima keluhan warga terkait birokrasi yang berbelit, lambat, atau tidak transparan.
Baginya, negara harus hadir dalam bentuk kemudahan, bukan kesulitan.
Ia mendorong agar sistem pelayanan di wilayah Jakarta Barat lebih adaptif terhadap kebutuhan warga, terutama di kawasan padat yang membutuhkan respons cepat. Dari pengurusan dokumen hingga akses layanan sosial, semuanya harus bisa dijangkau dengan mudah.
Pendekatan ini sejalan dengan pengalamannya di PKK, di mana pelayanan kepada masyarakat selalu dimulai dari empati dan kedekatan.
Hj. Inad bukan tipe pemimpin yang menonjolkan diri. Ia bekerja dalam diam, namun konsisten. Sikapnya yang tenang dan tidak reaktif justru menjadi kekuatan dalam menghadapi kompleksitas persoalan perkotaan.
Di tengah tekanan politik dan ekspektasi publik yang tinggi, ia memilih tetap pada jalurnya: mendengar, memahami, dan bertindak.
Keteguhan ini yang membuatnya tetap dipercaya warga. Ia tidak hanya hadir sebagai pejabat, tetapi sebagai bagian dari komunitas itu sendiri.
Menjawab Tantangan Kota yang Terus Tumbuh
Ke depan, Jakarta Barat akan terus menghadapi tantangan besar—urbanisasi, kepadatan penduduk, kesenjangan sosial, hingga tekanan ekonomi. Semua itu membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cakap dalam kebijakan, tetapi juga peka terhadap manusia.
Dalam konteks ini, sosok Hj. Inad Luciawaty menjadi relevan. Ia membawa pendekatan yang menggabungkan pengalaman pemberdayaan masyarakat melalui PKK dengan fungsi pengawasan di legislatif.
Ia memahami bahwa di balik setiap kebijakan, ada kehidupan warga yang harus diperjuangkan.
Di balik wajah keibuannya, tersimpan keteguhan. Di balik kesederhanaannya, ada konsistensi. Dan di balik sapaan “Bunda”, tersimpan harapan warga yang ia jaga dengan penuh tanggung jawab—dari ruang keluarga hingga ruang sidang pemerintahan.
(oNe)
Kami DINAMIKANEWS.com akan selalu berkomitmen memberikan fakta, terpercaya bukan Rumor, dan berimbang. Mohon Dukungannya demi keberlanjutan Jurnalisme dengan menyajikan Fakta bukan Rumor dan nikmati kenyamanannya saat menikmati Berita Kami tanpa iklan melalui like, Share, Gabung dan ikuti terus Link Berita DINAMIKANEWS.com mulai dari sekarang.
Komentar0