TpG5GSM5GfO7GpdlTpW0TUdpBY==

Saat di Museum Marsinah, Pengamat: Prabowo Warning kepada Mafia Kekuasaan

Jakarta, DINAMIKANEWS.com – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyinggung budaya aparat menjadi beking perusahaan dan kapitalis saat meresmikan Museum Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, dinilai sebagai sinyal keras dimulainya konsolidasi negara melawan jaringan oligarki dan kekuatan informal yang selama ini bermain di balik institusi.

Pidato tersebut disampaikan saat Presiden meresmikan Museum Marsinah dan rumah singgah buruh di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Sabtu (16/05/2026). Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan aparat harus berpihak kepada rakyat dan tidak menjadi pelindung kepentingan kelompok tertentu.

“Aparat dipakai oleh kapitalis-kapitalis tertentu ya kan. Dan ini budaya ini tidak boleh kita teruskan juga. Semua aparat dari yang tertinggi sampai yang terendah harus mati untuk rakyat, bukan malah menindas rakyat,” ucap Prabowo.

Menanggapi hal itu, pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah mengatakan pidato Prabowo bukan sekadar teguran biasa, melainkan bentuk pesan strategis negara kepada jaringan kekuasaan ekonomi-politik yang selama ini memanfaatkan aparat sebagai alat pengamanan bisnis.

“Dalam perspektif intelijen geopolitik, pidato Presiden Prabowo di Museum Marsinah adalah warning terbuka kepada shadow power yang selama ini bercokol di sekitar kekuasaan,” ujar Amir Hamzah kepada Dinamikanews.com, Jumat (22/05/2026).

Menurut Amir, sangat jarang seorang presiden berbicara secara gamblang mengenai praktik beking aparat terhadap kepentingan ekonomi tertentu.

“Bahasa Presiden sangat jelas. Ini bukan sekadar kritik moral, tetapi pengakuan bahwa ada relasi antara kapital, kekuasaan, dan aparat yang selama ini membentuk jejaring oligarki pengamanan bisnis,” katanya.

Amir menilai praktik semacam itu biasanya muncul ketika negara menghadapi penetrasi kepentingan ekonomi yang terlalu kuat terhadap institusi penegak hukum maupun birokrasi.

Ia menyebut sektor-sektor strategis seperti pertambangan, impor, pelabuhan, distribusi logistik, hingga proyek sumber daya alam sering menjadi arena permainan kekuatan informal.

“Dalam analisa intelijen, ini disebut state capture by economic network. Negara perlahan bisa dikendalikan jaringan ekonomi tertentu melalui pengaruh kepada aparat dan birokrasi,” jelasnya.

Menurut Amir, pemilihan lokasi pidato di Museum Marsinah juga memiliki makna simbolik yang sangat kuat.

Marsinah dikenal sebagai aktivis buruh yang menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan kekerasan struktural terhadap kaum pekerja. Peresmian museum tersebut disebut Presiden sebagai bentuk penghormatan negara terhadap perjuangan buruh dan rakyat kecil.

“Prabowo sengaja memakai simbol Marsinah untuk menunjukkan bahwa negara tidak boleh lagi tunduk kepada kekuatan modal yang menindas rakyat dengan dukungan kekuasaan,” ujar Amir.

Menurutnya, kalimat Prabowo yang meminta aparat “mati untuk rakyat” merupakan bahasa geopolitik kekuasaan yang sarat pesan internal.

“Itu artinya loyalitas aparat harus kembali kepada negara dan rakyat, bukan kepada cukong, mafia ekonomi, atau kepentingan kelompok tertentu,” katanya.

Amir juga menilai pidato keras Presiden menunjukkan adanya pembacaan serius dari lembaga intelijen mengenai persoalan di lapangan.

“Biasanya seorang presiden tidak berbicara sekeras itu kalau tidak ada laporan intelijen yang menunjukkan masalah sudah serius,” ucapnya.

Ia menduga pemerintah memperoleh berbagai laporan mengenai dugaan keterlibatan oknum aparat dalam praktik penyelundupan, mafia impor, perjudian, hingga pengamanan bisnis ilegal.

Sebelumnya, Prabowo juga meminta Panglima TNI dan Kapolri memastikan tidak ada lagi aparat yang membekingi praktik penyelewengan maupun kejahatan ekonomi.

“Saya tidak mau dengar lagi ada aparat yang tidak menegakkan hukum, keadilan dan kebenaran. Tidak boleh backing-backing macam-macam,” tegas Prabowo.

Menurutnya, pidato tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa Indonesia sedang memasuki fase pertarungan antara negara dan oligarki ekonomi.

“Kalau Presiden konsisten, maka ini bisa menjadi awal pembersihan besar terhadap jaringan rente di birokrasi dan aparat. Tetapi perlawanan tentu tidak kecil karena yang disentuh adalah sumber kekuatan ekonomi-politik,” jelasnya.

Amir mengatakan publik kini menunggu langkah konkret pemerintah pasca pidato tersebut.

“Dalam dunia intelijen ada istilah follow the speech with operation. Artinya pidato harus diikuti operasi nyata. Kalau setelah ini ada pembongkaran mafia impor, mafia tambang, penyelundupan, atau oknum aparat yang bermain, maka publik akan melihat Presiden serius,” tuturnya.

Museum Marsinah sendiri diresmikan Presiden Prabowo sebagai simbol penghormatan terhadap perjuangan hak-hak buruh dan keadilan sosial di Indonesia.(Noy/Lif)


Kami DINAMIKANEWS.com akan selalu berkomitmen memberikan fakta, terpercaya bukan Rumor, dan berimbang. Mohon Dukungannya demi keberlanjutan Jurnalisme dengan menyajikan Fakta bukan Rumor dan nikmati kenyamanannya saat menikmati Berita Kami tanpa iklan melalui like, Share, Gabung dan ikuti terus Link Berita DINAMIKANEWS.com mulai dari sekarang.

Komentar0

Type above and press Enter to search.