TpG5GSM5GfO7GpdlTpW0TUdpBY==

Pengamat: Strategi TNI AL Gandeng Pakistan Bukan sekedar latihan Biasa, tapi bagian Arsitektur Keamanan Indo-Pasifik

Jakarta, DINAMIKANEWS.com -- Semakin berkembangnya teknologi militer yang revolusioner hingga mendorong Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) melakukan transformasi strategi pertahanan. Kesepakatan antara TNI AL dan Angkatan Laut Pakistan tersebut untuk memperkuat pendidikan serta latihan berbasis Multi-Domain Operations (MDO) dinilai bukan sekadar kerja sama militer biasa, tetapi menjadi bagian dari perubahan besar dalam arsitektur keamanan kawasan Indo-Pasifik.

Kesepakatan tersebut lahir dalam forum Navy to Navy Experts Level Staff Talks (NTNELST) ke-6 yang berlangsung di Museum Pusat TNI AL, Surabaya. Delegasi Indonesia yang dipimpin Asisten Operasi KSAL Laksda TNI Yayan Sofiyan, sedangkan Pakistan dipimpin Komodor Anwar Saeed.

Selain meningkatkan interoperabilitas kedua angkatan laut, forum tersebut juga menghasilkan komitmen menjaga keamanan jalur strategis Samudra Hindia yang menjadi urat nadi perdagangan dunia.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai langkah tersebut harus dibaca dalam perspektif geopolitik yang jauh lebih luas.

Menurutnya, dunia saat ini memasuki era kompetisi kekuatan besar (great power competition), di mana laut bukan lagi sekadar jalur perdagangan, tetapi telah berubah menjadi ruang perebutan pengaruh politik, ekonomi, teknologi, dan militer.

“Kerja sama ini bukan sekadar latihan tempur. Ini adalah sinyal bahwa Indonesia mulai menyesuaikan doktrin militernya dengan karakter perang abad ke-21 yang sangat mengandalkan integrasi teknologi dan operasi lintas domain,” ucap Amir Hamzah dalam pernyataannya kepada Dinamikanews.com, Ahad (28/06/2026).

Amir menjelaskan bahwa konsep Multi-Domain Operations merupakan doktrin peperangan modern yang mengintegrasikan operasi darat, laut, udara, ruang angkasa, hingga dunia siber secara simultan. Dalam perang modern, kemenangan tidak lagi ditentukan oleh jumlah pasukan semata, tetapi oleh kecepatan pertukaran informasi, kecerdasan buatan, satelit, drone, peperangan elektronik, hingga kemampuan siber.

Menurutnya, transformasi tersebut menjadi kebutuhan mendesak karena ancaman keamanan kawasan berubah sangat cepat.

“Ancaman sekarang bukan hanya invasi militer konvensional. Ada serangan siber, perang informasi, sabotase terhadap infrastruktur bawah laut, hingga penggunaan drone dan kecerdasan buatan. Semua itu membutuhkan doktrin baru,” ucapnya.

Amir melihat kerja sama Indonesia-Pakistan juga memiliki dimensi geopolitik yang sangat penting.

Samudra Hindia kini menjadi salah satu kawasan paling strategis di dunia karena menjadi penghubung Timur Tengah, Afrika, Asia Selatan, hingga Asia Tenggara.

Lebih dari itu, jalur tersebut merupakan lintasan utama distribusi energi global, termasuk minyak dan gas menuju Asia Timur.

“Siapa yang mampu menjaga stabilitas Samudra Hindia akan memiliki pengaruh besar terhadap keamanan perdagangan internasional,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa meningkatnya aktivitas militer berbagai negara besar di Indo-Pasifik membuat negara-negara kawasan harus memperkuat kerja sama tanpa harus terjebak dalam rivalitas kekuatan global.

Indonesia, lanjut Amir, selama ini menganut politik luar negeri bebas aktif sehingga dapat membangun hubungan pertahanan dengan berbagai negara merupakan langkah yang sangat rasional.

“Indonesia tidak berpihak kepada blok mana pun. Justru Indonesia membangun keseimbangan melalui diplomasi pertahanan.”

Amir menilai Pakistan merupakan salah satu mitra strategis Indonesia di kawasan Samudra Hindia.

Negara tersebut memiliki pengalaman panjang dalam operasi maritim, pengamanan jalur laut, hingga latihan gabungan internasional.

Kolaborasi dengan Pakistan memungkinkan TNI AL memperoleh pengalaman operasional yang lebih luas, terutama dalam menghadapi ancaman nonkonvensional seperti pembajakan, terorisme maritim, penyelundupan senjata, hingga operasi keamanan laut berskala besar.

“Kerja sama ini sangat memperkaya pengalaman profesional kedua angkatan laut.”

Menurutnya, diplomasi pertahanan kini menjadi salah satu instrumen paling efektif menjaga stabilitas kawasan tanpa harus menggunakan kekuatan militer secara langsung.

Adanya Latihan bersama, pertukaran perwira, pendidikan militer, hingga forum strategis menjadi sarana membangun rasa saling percaya (confidence building measures) antarnegara.

Ia menilai langkah yang dilakukan TNI AL sejalan dengan kebijakan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali yang mendorong peningkatan kerja sama internasional sebagai bagian dari diplomasi maritim Indonesia.

“Diplomasi angkatan laut sering kali lebih efektif dibanding diplomasi politik karena membangun kepercayaan melalui kerja sama profesional.”

Namun demikian, Amir mengingatkan bahwa latihan bersama tidak akan optimal apabila tidak diikuti pembangunan industri pertahanan nasional yang lebih baik. 

Menurutnya, adopsi konsep Multi-Domain Operations membutuhkan dukungan satelit, radar modern, sistem komando dan kendali digital, kecerdasan buatan, drone, peperangan elektronik, keamanan siber, hingga kemampuan analisis intelijen yang terintegrasi.

“Indonesia harus memperkuat ekosistem teknologi pertahanannya sendiri. Jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi produsen inovasi pertahanan.”

Ia juga menilai penguatan sumber daya manusia menjadi faktor yang tidak kalah penting karena perang masa depan akan lebih banyak ditentukan oleh kualitas personel dibanding jumlah alutsista semata.

Di tengah meningkatnya dinamika keamanan regional, Amir menilai kerja sama TNI AL dan Angkatan Laut Pakistan menunjukkan bahwa Indonesia terus memainkan peran sebagai kekuatan penyeimbang di kawasan.

Melalui diplomasi pertahanan, latihan bersama, serta peningkatan interoperabilitas, Indonesia berupaya menjaga stabilitas kawasan tanpa mengedepankan politik konfrontasi.

“Langkah ini menunjukkan Indonesia tidak sedang mempersiapkan perang, tetapi mempersiapkan kemampuan untuk mencegah konflik melalui kekuatan, profesionalisme, dan diplomasi. Dalam perspektif intelijen geopolitik, kesiapan seperti inilah yang justru menjadi fondasi utama menjaga perdamaian di kawasan Indo-Pasifik,” Tandas Amir Hamzah.(Pray/Noy)


Kami DINAMIKANEWS.com akan selalu berkomitmen memberikan fakta, terpercaya bukan Rumor, dan berimbang. Mohon Dukungannya demi keberlanjutan Jurnalisme dengan menyajikan Fakta bukan Rumor dan nikmati kenyamanannya saat menikmati Berita Kami tanpa iklan melalui like, Share, Gabung dan ikuti terus Link Berita DINAMIKANEWS.com mulai dari sekarang.

Komentar0

Type above and press Enter to search.