TpG5GSM5GfO7GpdlTpW0TUdpBY==

Rasisme Baru di ajang Piala Dunia 2026

Jakarta, DINAMIKANEWS.com - ”Pada ajang piala dunia 2026, FIFA melalui Social Media Protection Service merilis data unggahan media sosial dan hasilnya mendeteksi lebih dari tujuh juta unggahan mengandung pelecehan dan ujaran kebencian yang ditujukan kepada pemain, pelatih, ofisial, maupun tim peserta.”

Pesta sepakbola masyarakat sejagad, Piala dunia 2026 telah usai dan Spanyol berhasil menjadi juara dunia. Selesai sudah berbagai kontroversi, drama, dan kompleksitas yang terjadi sebelum maupun selama mengiringi piala dunia tahun ini. Persoalan politik, permainan di lapangan, serta spektakulernya penonton sepakbola selalu menarik jadi pembahasan, namun ada satu hal yang luput padahal sudah sering dikampayekan oleh FIFA yakni menolak rasisme. Bukan tanpa sebab, karena pada Piala Dunia 2026 ini muncul kembali tindakan bernuansa rasialis, meski tidak secara agresif namun tetap terjadi dan bermakna. Beberapa fenomena rasialisme yang muncul selama ajang ini digelar bisa menjadi peringatan bagi kita, bahwa penghinaan berdasarkan ras belum terhapus sepenuhnya dari sepakbola ditambah media digital yang semakin massif menyebarkan konten dengan cepat dan respon secara aktual.  

Ishowspeed dan Komodifikasi Digital
Insiden rasisme yang menimpa konten kreator terkenal dunia, IShow Speed, dalam laga Argentina vs Tanjung Verde, menjadi peristiwa yang menghebohkan jagad dunia media sosial. Hinaan secara verbal bernada xenofobia dari oknum suporter yang melecehkan konten kreator tersebut dengan gestur penghinaan begitu vulgar diperlihatkan secara real time dan disiarkan langsung pada jutaan mata pasang penonton. Peristiwa tersebut menarik bukan pada penghinaan rasialnya saja, tetapi karena bagaimana cara insiden tersebut diproduksi sebagai peristiwa media. Berbeda dengan rasisme secara konvensional yakni disaksikan oleh ribuan penonton di stadion, penghinaan terhadap IShow Speed ini ditonton secara langsung oleh jutaan pengikutnya di media sosial miliknya, kemudian insiden itu dipotong menjadi video pendek lalu diunggah ulang di berbagai platform dan menjadi bahan diskusi secara global hanya dalam hitungan menit. Semakin banyak komentar, kemarahan, dan perdebatan yang muncul maka semakin tinggi pula engagement di platform digital. Akibatnya, rasisme tidak hanya dipertontonkan tetapi menjadi sebuah tontonan, insiden IShow Speed menyingkap sebuah realitas struktural yang ironi di mana kebencian rasial kini menunggangi dalam ekosistem platform digital, insiden rasis yang dialami Ishow Speed tidak sekedar menjadi persoalan etika, tetapi bisa menjadi sebuah komoditas dalam ranah ruang digital dengan kata lain, diskriminasi tidak sekadar disebarkan melalui media digital, tetapi memperoleh nilai ekonomi karena kemampuannya menarik perhatian publik. 

Mbappe dan Rasisme dalam Balutan Identitas Bangsa
Komentar bernuansa rasialis dari seorang senator Paraguay terhadap Mbappe yang mempertanyakan identitas dan latar belakang etnisnya serta kontroversi pernyataan mantan Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy yang mempertanyakan ke Prancisan tim nasional Perancis karena banyaknya pemain yang memiliki latar belakang keluarga imigran dari Afrika dan Karibia, memantik reaksi keras serta kritik luas di kalangan publik karena dinilai merendahkan para pemain juga mempertanyakan legitimasi mereka sebagai representasi bangsa Perancis. Kasus Mbappe memperlihatkan bahwa rasisme dalam sepakbola telah mengalami pergeseran. Jika sebelumnya diskriminasi lebih banyak diwujudkan melalui hinaan terhadap warna kulit, kini ia semakin sering muncul dalam bentuk penyangkalan terhadap identitas kebangsaan. Apa yang menarik dari kasus Mbappe ini adalah narasi bernada penghinaan seperti semakin massif terjadi pada ruang dunia maya, arena itu jadi tantangan rasisme di Piala Dunia tidak hanya muncul dari perilaku individu tetapi juga dari narasi yang berkembang. Sehingga suatu pernyataan tokoh politik maupun komentar warganet diproduksi dan disebarkan secara masif, batas antara nasionalisme, identitas, dan rasisme menjadi semakin kabur. Di sinilah tantangan besar buat FIFA melawan rasisme yang tidak lagi hadir sebagai tindakan spontan, melainkan sebagai narasi yang terus direproduksi di ruang digital.

FIFA dan Tantangan Rasisme Digital
Pada ajang piala dunia tahun ini, FIFA melalui Social Media Protection Service merilis data unggahan media sosial dan hasilnya mendeteksi lebih dari tujuh juta unggahan mengandung pelecehan dan ujaran kebencian yang ditujukan kepada pemain, pelatih, ofisial, maupun tim peserta. Sebagian dari konten tersebut bernada rasisme, dari data ini menunjukkan bahwa ungkapan kebencian bernada rasial dalam sepakbola bukan lagi persoalan yang bersifat insidental melainkan fenomena yang berlangsung secara intens. Meski secara formal maupun informal induk organisasi sepakbola dunia ini memiliki wewenang untuk mengatur perilaku penonton di stadion melalui berbagai regulasi pertandingan dan sanksi disipliner, tetapi tidak memiliki kontrol langsung terhadap cara kerja platform digital. Langkah mendeteksi unggahan digital tersebut patut diapresiasi untuk mitigasi awal cuitan dunia maya karena pada ruang inilah ujaran kebencian dan rasisme memperoleh tempat baru, melalui algoritmanya cenderung memperluas jangkauan konten yang memancing emosi dan keterlibatan aktif penggunanya. Akibatnya, korban tidak hanya mengalami diskriminasi pada saat pertandingan berlangsung tetapi juga menghadapi reproduksi kebencian yang terus hidup di ranah digital. 

Menjaga Bahasa Universal Sepakbola
Piala Dunia selalu dipandang sebagai panggung yang mempertemukan berbagai bangsa, bahasa, dan budaya dalam satu semangat: sepakbola. Namun, beberapa peristiwa yang terjadi pada Piala Dunia 2026 mengingatkan kita bahwa olahraga belum sepenuhnya menjadi ruang yang bebas dari ungkapan rasial. Richard Delgado dalam Critical Race Theory mengatakan bahwa rasisme bukanlah sekadar tindakan individu yang muncul sesekali, tetapi bagian dari struktur sosial yang terus bertahan dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Pada era digital ini, penyesuaian itu terlihat jelas rasisme tidak lagi hanya terdengar dari tribun stadion, tetapi menyebar melalui berbagai platform media sosial. Karena itu, melawan rasisme hari ini tidak cukup hanya dengan memasang slogan di stadion atau menjatuhkan sanksi kepada pelaku. Upaya tersebut juga harus menyentuh ruang digital, federasi sepakbola, perusahaan platform digital, media massa, dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan bahwa teknologi tidak menjadi sarana yang memperkuat diskriminasi dan mengkomodifikasi ujaran kebencian. Sepakbola ingin tetap menjadi bahasa universal yang menyatukan berbagai perbedaan, maka perjuangan melawan rasisme harus terus dilakukan bukan hanya selama 90 menit di lapangan, tetapi juga di setiap ruang tempat sepakbola diperbincangkan.#***


Kami DINAMIKANEWS.com akan selalu berkomitmen memberikan fakta, terpercaya bukan Rumor, dan berimbang. Mohon Dukungannya demi keberlanjutan Jurnalisme dengan menyajikan Fakta bukan Rumor dan nikmati kenyamanannya saat menikmati Berita Kami tanpa iklan melalui like, Share, Gabung dan ikuti terus Link Berita DINAMIKANEWS.com mulai dari sekarang.

Komentar0

Type above and press Enter to search.