Anggota DPRD DKI Jakarta Josephine Simanjuntak kembali mengingatkan masyarakat persoalan sampah bukan sebagai urusan pemerintah semata.
Menurut Bunda Josephine upaya mengurangi beban tempat pengolahan sampah harus dimulai dari tingkat rumah tangga, salah satunya melalui kebiasaan kita memilah sampah sejak dari sumber.
Pesan tersebut disampaikan Josephine saat melaksanakan kegiatan Peningkatan Fungsi Pengawasan DPRD terhadap Produk Hukum Daerah tentang Pengelolaan Sampah bersama masyarakat di kawasan Jakarta Timur pada 12-13 September 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Josephine menekankan kembali pentingnya memastikan regulasi mengenai pengelolaan sampah benar-benar berjalan efektif di lapangan.
Ia menilai pengawasan terhadap pelaksanaan aturan perlu dilakukan secara berkelanjutan karena persoalan sampah Jakarta berkaitan langsung dengan kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat.
"Saya hadir di sini untuk memantau seberapa jauh peraturan daerah yang kami terbitkan tentang pengolahan sampah ini berjalan. Kenapa saya bicara seperti ini? Karena hari ini Jakarta sudah diberi peringatan oleh dua tempat pembuangan sampah kita, yaitu Rorotan dan Bantar Gebang. Kalau tidak dibatasi dan dikelola dengan baik, itu sangat berbahaya," Ucap Josephine dalam keterangannya kepada Dinamikanews.com, pada Kamis (17/09/2026).
Josephine pun menjelaskan, pertumbuhan penduduk dan aktivitas rumah tangga turut meningkatkan timbulan sampah setiap hari. Berbagai aktivitas sederhana, mulai dari memasak, berbelanja hingga menggunakan produk kemasan,yang menghasilkan sampah yang pada akhirnya harus diangkut dan diolah.
Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks ketika sampah dari rumah tangga tidak dipilah terlebih dahulu. Sampah organik, plastik, kertas, logam hingga jenis sampah yang membutuhkan penanganan khusus bercampur dalam satu wadah sehingga proses pengolahan berikutnya menjadi lebih berat.
Saat ini Data yang tersedia menunjukkan Jakarta menghasilkan sekitar 7.000-8.000 ton sampah per hari. Sebagian besar aliran sampah tersebut selama ini masih berkaitan dengan TPST Bantargebang di Bekasi.
Karena itu, pengurangan sampah dari sumber menjadi salah satu bagian penting dalam strategi pengelolaan sampah perkotaan.
Josephine menyoroti ketergantungan Jakarta terhadap fasilitas pengelolaan sampah, termasuk TPST Bantargebang dan fasilitas pengolahan di Rorotan.
Menurutnya, kapasitas fasilitas tersebut tidak boleh menjadi alasan masyarakat untuk terus membuang sampah tanpa melakukan pemilahan.
Politikus dari Fraksi PSI tersebut mengajak masyarakat membangun kebiasaan sederhana, yakni memisahkan sampah sejak berada di rumah.
Sampah organik seperti sisa makanan dapat dipisahkan dari sampah yang masih memiliki nilai daur ulang, sementara sampah residu dan sampah yang membutuhkan penanganan khusus juga perlu ditempatkan secara terpisah.
Langkah tersebut dinilai dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang akhirnya harus dibawa ke fasilitas pemrosesan akhir.
Saat ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri telah mendorong Edukasi pemilahan sampah dari sumber. Kebijakan tersebut antara lain mengarahkan masyarakat Jakarta untuk memilah sampah ke dalam beberapa kategori, seperti sampah mudah terurai, sampah yang dapat didaur ulang, sampah B3, dan sampah residu.
Josephine menilai keberhasilan kebijakan tersebut tidak hanya bergantung pada aturan, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat.
Ia mengingatkan, apabila seluruh sampah rumah tangga langsung dikirim ke tempat pemrosesan tanpa melalui proses pemilahan, beban fasilitas pengolahan akan semakin berat.
"Hidup bersama sampah itu tidak enak dan bisa menimbulkan berbagai penyakit. Kalau Bantar Gebang sudah tidak sanggup menampung, lagipula Bantar Gebang bukan cuma menampung sampah Jakarta, dampaknya akan kembali ke kehidupan kita sehari-hari," Jelas Josephine, anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta.
Persoalan sampah Jakarta saat ini juga mendorong pemerintah untuk memperkuat berbagai metode pengolahan sebelum sampah mencapai tempat pemrosesan akhir.
Salah satunya melalui teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) yang mengolah sampah tertentu menjadi bahan bakar alternatif. Ahli lingkungan dari Institut Teknologi Bandung sebelumnya menjelaskan bahwa RDF dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke TPST Bantargebang.
Namun, pengolahan dengan teknologi tetap membutuhkan pemilahan sejak dari sumber. Sampah yang tercampur akan membutuhkan proses lebih panjang sebelum dapat diolah kembali.
Karena itu, pengelolaan sampah idealnya dilakukan secara berjenjang, mulai dari rumah tangga, lingkungan RT/RW, tempat penampungan sementara, fasilitas pengolahan, hingga tempat pemrosesan akhir.
Di sisi lain, persoalan sampah di Jakarta belakangan ini juga ditandai dengan adanya penumpukan di sejumlah tempat penampungan sementara.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak semata-mata berkaitan dengan kapasitas tempat pemrosesan akhir. Kecepatan pengangkutan, sistem pemilahan, kapasitas pengolahan dan koordinasi di tingkat wilayah juga menjadi bagian penting dalam rantai pengelolaan sampah.
Penurunan ritase pengiriman sampah menuju Bantargebang seiring kebijakan pembatasan dan optimalisasi pemilahan tidak otomatis menghilangkan persoalan di tingkat permukiman.
Sampah yang sudah berkurang pengirimannya ke tempat akhir tetap harus ditangani secara cepat di tingkat hulu agar tidak menimbulkan penumpukan. Karena itu, edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu kuncinya.
Josephine berharap warga Jakarta tidak hanya memahami aturan pengelolaan sampah, tetapi dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, perubahan kebiasaan dari rumah dapat memberikan dampak terhadap sistem pengelolaan sampah secara keseluruhan.
"Kalau kita mulai memilah dari rumah, sampah yang dibuang akan lebih sedikit. Ini bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga bagaimana kita menjaga lingkungan Jakarta untuk jangka panjang," demikian pesan yang ditekankan dalam kegiatan tersebut.
Persoalan sampah pada akhirnya menjadi tanggung jawab kita bersama. Pemerintah memiliki kewajiban menyediakan sistem dan fasilitas pengelolaan yang memadai, sementara masyarakat memiliki peran penting dalam mengurangi dan memilah sampah sejak dari sumber.
Dengan produksi sampah Jakarta yang masih berada pada kisaran 7.000-8.000 ton per hari, perubahan pola pengelolaan dari hulu menjadi semakin penting agar beban fasilitas seperti Bantargebang dapat ditekan.#*** (Dinamikanews.com)
Kami DINAMIKANEWS.com akan selalu berkomitmen memberikan fakta, terpercaya bukan Rumor, dan berimbang. Mohon Dukungannya demi keberlanjutan Jurnalisme dengan menyajikan Fakta bukan Rumor dan nikmati kenyamanannya saat menikmati Berita Kami tanpa iklan melalui like, Share, Gabung dan ikuti terus Link Berita DINAMIKANEWS.com mulai dari sekarang.
Komentar0